Make your own free website on Tripod.com

Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih

 Tanya:

Assalamu’alaiku ‘Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Ustad yang saya hormati, saya mempunyai beberapa pertanyaan

1.      Apakah ada dalam islam istilah lmu hitam dan ilmu putih?

2.      apakah benar jika kita menaruh garam di atas pintu dapat menetralisir kejahatan syetan sebagaimana air laut menetralisir sampah dilautan?

3.      Teman saya pernah bertanya ke paranor­mal katanya teman saya itu harus diruwat dan harus memakai jimat yang akan diberikan jika berobat ke paranormal tersebut Bagairnana hukumnya menurut islam?

Wassalam

                        Syahrul Hidayat

 Jawab :

Saudaraku seiman dan se aqidah, mudah mudahan dirahmati Allah Ta’ala dimanapun anda berada, Dienul Islam yang kita yakini keberarannya dan yang menjadi pilihan kita untuk bernaung di bawah panji-panjinya adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna) Dikarenakan Islam memiliki ciri khas yang demikian, maka Islam mewajibkan kepada semua pemeluk­nya untuk mencari ilmu semenjak manusia masih dalam buaian sampai ajal menjemputnya. Islam tidak hanya mewajib kan saja, akan tetapi juga memberi penghargaan yang setinggi-tingginya bagi umatnya yang beriman dan berilmu. Allah berfirman di dalam kitab suci AI-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu Berlapang-Iapanglah dalam majelis, maka Iapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk mu. Dan apabila dikata­kan Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan arong-arang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Menge­tahu, apa yang kamu kerjakan” (AlMujadilah:11)

Di dalam hadits shahih Rasulullah bersabda, dari Anas bin Malik, “Mencari ilmu itu fardhu (wajib) bagi setiap muslim, dan orang yang menempatkan ilmu tidak kepada ahlinya maka ia seperti arang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara dan emasi” (HR. Ibnu Majah).

Sejak zaman Rasulullah sampai saat ini semua umat Islam sepakat akan wajibnya menuntut ilmu dien ini, akan tetapi apakah semua orang Islam harus menguasai semua disiplin ilmu? Tentu tidak demi­kian. Karena Allah tidak akan membebani hamba­Nya kecuali menurut kesanggupannya (Al Baqa­rah 286)llmu pertama yang wajib diketahul seorang hamba adalah ilmu tentang pokok-pokok agama dan ia merupakan ilmu yang paling mulia karena kemuliaan ilmu itu tergantung pada kemu­liaan yang diketahul (Syarah Aqidah Thahawiyah hal: 5).Dan sinilah ulama menyimpulkan adanya ilmu yang fardhu ain yaitu wajib setiap orang untuk mempelajarinya seperti: tauhid, Aqidah, ilmu sholat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Juga ada ilmu yang fardhu kifayah, tidak wajib setiap orang untuk menguasainya akan tetapi harus ada di antara mereka yang mengua­sainya seperti ilmu kedokteran, tehnologi dan sebagainya

Tidak ada dan kalangan ulama manapun baik salaf (yang terdahulu) atau kholaf (masa kini) yang menyatakan bahwa dalam agama Islam itu ada ilmu putih dan ilmu hitam. Namun demikian, bu­kan berarti istilah ilmu hitam dan ilmu putih yang sudah melegenda di masyarakat kita tidak ada sama sekali karena hal tersebut ada dan terdapat dalam sihir. Di dalam ilmu sihir ada yang dikenal as sihrul abyadh atau sihir putih dan as sihrul aswad yaitu sihir hitam/black magic (lihat kitab: Nahwa Mausu ‘oh syar‘iyyah fi ilmirruqo, jilid 3 hal 222). Disebut sihir putih (hal ini tetap termasuk syirik dan dosa besar) biasanya digunakan untuk tujuan membantu orang lain. Contoh sihir mahabbah (pelet), sihir untuk pengo­batan, ramalan, penjagaan diri atau rumah, dan lain-lain. Sedang sihir hitam ditujukan untuk menyakiti (menzholimi) or­ang lain, contoh: sihir pe­misah antara suami istri, sihir untuk membunuh atau membuat sakit-­sakitan(santet), hipnotis untuk merampok harta atau kehormatan, meng­hancurkan usaha atau jabatan orang lain (hasad), dan lain-lain. Walaupun disebut ilmu putih (sihir putih) dan ilmu hitam (sihir hitam) menurut para ulama keduanya tidak berbeda akan isi kandungan dan eksistensinya. Yakni, persekong­kolan antara penyihir dan syetan agar penyihir melakukan perbuatan haram atau kesyirikan sebagai imbalan bantuan dan kesetiaan syetan kepadanya (As Sharim al Battar hal. 8).

Hukum mempelajarinya sama haramnya dan pelakunya dihukumi kufur keluar dari islam (lihat kitab: Nahwa Mausu‘ah syar‘iyyah fi ilmirruqo, jilid 3 hal 222). Di dalam hadits shahih Rasulullah melarang mendekati sihir. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang menghancurkan. Para sahabat bertanya: ‘Apa hal itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Syirik (menyekutukan) Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan pertempuran dan menuduh wanita baik-baik berbuat zina.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berhati-hatilah ketika menuntut ilmu. Jangan sampai karena terpengaruh dengan istilah ilmu putih kemudian kita terjerumus ke dalam lumpur sihir yang menyesatkan disebabkan tidak menge­tahui perbedaan antara karamah dengan sihir. Adapun mengenai garam yang ditaruh di atas pintu apakah bisa menolak jin? Tidak ditemukan dalil yang menyatakan bahwa jin takut pada garam. Jadi hal ini sangat berbau “katanya” -takhayul. Yang benar sebenarnya ular-lah yang takut dengan garam karena sebagian jin ada yang menjelma menjadi ular maka disamakan antara ular yang sebenarnya de­ngan ular yang jadi-jadian. Padahal keduanya ber­beda karena Rasulullah telah memberikan cara bagaimana kita mengusir ular dan tempat tinggal kita, yaitu dengan mem­peringatkannya dan mem­berikan tangguh tiga malam. Apabila ia tetap berada di situ, kata Rasu­lullah bunuhlah ia. Yang lebih parah garam dijadikan jimat, karena hal ini telah masuk wilayah kesyirikan. Sebab telah menyakini sesuatu  dapat memberikan manfaat atau madharat apa-apa yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah. Seandainya pernyataan Anda di atas benar tentu tidak ada pencemaran air laut yang disebabkan oleh sampah-sampah yang digelontorkan lewat sungai, namun kenyataannya bagaimana? Begitu  juga andaikan jin takut pada garam yang jelas  rasanya asin sama dengan air laut yang juga asin, tentu jin (Iblis) tidak akan membangun singgasananya di lautan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah di dalam kitab shahih Muslim bahwa  Iblis meletakkan singgasananya di atas air.   Kemudian ia mengutus tentara-tentaranya, yang  paling dekat derajatnya kepadanya adalah yang paling besar fitnahnya (kepada manusia), salah satu dari mereka datang dan berkata, "Aku telah melakukan ini dan itu." Iblis berkata, "Kamu tidak   mengerjakan sesuatu." Rasulullah bersabda, "Kemudian datanglah salah seorang dari mereka dan berkata, "Aku tidak meninggalkannya sehingga aku telah memisahkan nya dan istrinya." Rasulullah bersabda, "Kemudian Iblis itu mendekatinya dan    berkata, "Ya kamu."(HR. Muslim)  Sedangkan ketika meruqyah dan terkadang meminumkan air yang dicampuri garam yang telah dibacakan ayat-ayat ruqyah dimaksudkan untuk memancing si pasien agar muntah karena biasanya jin dan syetan yang terkutuk keluar bersama dengan muntahan tadi. Tapi itu bukanlah keyakinan bahwa jin takut pada garam.

Tentang mendatangi dukun, kami tak bosan dan tak henti-hentinya mengingatkan saudar seiman agar jangan mendatangi dukun, paranormal, orang pintar, atau sebutan kyai haji tapi nyatanya berpraktek klenik dan ngaku mengetahui hal ghoib, dan yang sebangsanya, rasulullah telah tegas mengingatkan: Barang siapa mendatangi dukun/peramal dan sejenisnya.dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam.(HR. Muslim).Jika mendatangi dan bertanya saja dilarang, apalagi mau mendengar solusi yang diberikan. Tentu lebih terlarang lagi. Apalagi ruwatan itu bukan dari Islam tapi ajaran kejawen yang bersumberkan dari ajaran nenek moyang yang notabene mereka beragama non Islam. Dalam a)aran itu  ruwatan bertujuan untuk membuang sengkolo (sial) yang ada pada diri seseorang atau biasanya untuk melindungi agar orang yang diruwat itu selamat dari bathoro kolo, butho ijo (dewa-dewa) dan lain sebagainya. Sekali lagi, itu semua bukan ajaran Islam. Justru agama ini memerintahkan umatnya untuk bertawakal kepada Allah semata. Karena segala sesuatu itu terjadi atas kehendak-Nya. Orang yang paling sial adalah orang yang tidak menerima ajaran dari   Allah yang telah menciptakannya dan menghidupkannya serta memberinya rizki. Di   akhirat kelak Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka atas semua perbuatan yang telah ia lakukan.Demikian juga memakai jimat, itu dilarang dalam Islam. Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Masud, ia berkata, "Aku telah   mendengarkan Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya jampi (yang tidak syar’i), jimat dan tiwalah adalah syirik". Tiwalah adalah sesuatu yang digunakan wanita untuk merebut cinta suaminya, dan ini termasuk sihir. Akhirnya marilah kita berhati-hati untuk tidak tertipu oleh syaiton, dan teruslah menggali ilmu dien yang haq ini.

 

Pertanyaan diatas dijawab oleh Ustadz Ahmad Junaidi, Lc.Lulusan Fakultas Syari’ah, Lembaga llmu Pengetahuan Islam dan Arab, (LIPIA) Jakarta.

Selanjutnya