Make your own free website on Tripod.com

Jika kita renungkan bahwa ingatan yang paling kuat pada kematian ialah pada saat menjelang tidur satu hari dari perjalanan hidup kita kita tutup kembali, dan sekali-kali hari itu tidak pernah akan kembali lagi.dalam terapan sehari-hari unsur iman kepada hari akhirat dan yakin tentang adanya kematian inilah yang harus menggugah kesadaran kita setiap waktu Karena itu jika diantara kita ada yang merasakan suatu ketika dorongan melakukan maksiat di dalam diri, dorongan menjadi turun ke pentas bumi untuk berkhianat pada Allah Yang Maha Kuasa, dorongan menjadi lemah untuk menyerah kepada godaan-godaan, hendaklah kita segera menanyakan pada dirinya pertanyaan-pertanyaan seperti ini “apa yang saya lakukan jika dalam keadaan maksiat ini tiba-tiba saya mati, Bagaimana saya bertemu menghadap pada Allah sedangkan saya mati sedang memikul dosa? Dalam kehidupan di masyarakat, kita sering mendengar cerita atau menyaksikan kejadian nyata yang mengiringi sebuah proses kematian, ini adalah sepenggal  kisah nyata yang benar terjadi sebagai contoh dari sekian banyak kejadian serupa seperti ini, sebuah kisah nyata dari seorang laki-laki yang tercatat sebagai seorang pegawai pemerintah yang ditemukan mati di tempat maksiat (prostitusi) laki-laki ini awalnya datang ke tempat pelacuran itu dengan gagah, sehat, ia menghabiskan waktu liburannya itu bersama wanita, lalu ia masuk ke kamar hotel sambil mendekap wanita di pelukkannya, pada saat setelah semua proses zina itu berlalu, kemudian entah kejadian apa tiba-tiba nyawa laki-laki tercabut, kemudian membujur kaku menjadi mayat. Itu hanya satu contoh. Pada contoh lain sebuah cerita nyata yang bisa dijadikan peringatan bagi kita, ada seorang bapak yang iseng mendekati sekelompok anak muda yang sedang pesta mabuk “miras”, kemudian terbersit keinginan dari sang bapak tua ini untuk ikut mencicipi minuman setan itu dengan dalih hanya untuk menghangatkan badan katanya, tanpa basa-basi ia langsung menenggak minuman itu meskipun hanya beberapa teguk saja. Tanpa beberapa lama bapak tua ini merasakan badannya terasa tak enak kemudian pulang dengan kondisi badan yang sudah lemah, setibanya di rumah ia langsung tak sadarkan diri-pingsan kemudian dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit, dan kondisinya dalam keadaan “koma” sampai beberapa hari, untunglah pada akhirnya jiwanya tertolong dan dalam keadaan sadar sang bapak ini merasakan penyesalan yang dalam dan menangis, dia berpikir jika dia mati dalam keadaan seperti itu maka tinggal sejengkal lagi dia melangkah ke neraka .....!!

Kita perhatikan perubahan arah jarum jam kehidupan.contoh-contoh seperti ini sering kali dan sangat banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama pergi dalam keadaan gagah, sehat dan kemudian mati dalam keadaan maksiat, yang kedua sudah melakukan maksiat. Tapi dengan satu titik ketukan peringatan dari Allah kemudian dia sadar dan kemudian ia menyesal dan bertobat, peristiwa-peristiwa seperti inilah sebagai salah satu cara yang bagus untuk mengetuk hati kita setiap kita menemukan dorongan diri untuk bermaksiat, bahwa bagaimana seandainya kita mati, dalam keadaan sedang melakukan dosa seperti ini? Jika hati kita masih hidup, masih ada iman, andaikan kita melakukan dosa maka kita tidak akan tenang, ada rasa dihantui dan perasaan berdosa akan begitu kuat mempengaruhi kita dan itu akan banyak berguna bagi kita.

Dalam kesempatan lain disaat saya sedang menjelajahi dunia internet, secara tak sengaja menemukan sebuah site “aneh dan sangat mengerikan” (kalau tidak salah www.ogrish.net) saya katakan aneh karena didalamnya memuat  banyak potongan–potongan film video yang memotret berbagai cara manusia untuk mati yang terdiri dari banyak bagian film dan foto (snap shoot), dan saya yakin itu bukan rekayasa film, jadi semua cara orang mati disitu perlihatkan- dipertontonkan begitu jelas, gambar-gambar potongan itu berusaha menemukan semua cara mati yang dialami banyak orang, dari orang yang mati biasa, mati dalam keadaan sakit, mati yang disetrum listrik dipenjara, mati yang digigit buaya, mati dibunuh, matinya tawanan perang yang digorok lehernya (perang Rusia-Chechnya), mati karena dibelah perutnya, dsb. saya sendiri terhenyak, sangat kaget bagaimana penyusun atau pengambil gambar-gambar itu bisa menemukan moment-momen seperti itu? tapi saya menganggap pikiran atau ide semacam bagi masyarakat barat-eropa mungkin suatu yang lumrah dan biasa saja, tapi untuk ukuran orang kita yang ber-agama, ini adalah ide gila-tak waras bahkan sangat gila. Peristiwa-peristiwa kejam dalam gambar itu benar-benar terekam dalam benak saya, dan selalu teringat-terbayang, sampai beberapa hari jadi terasa tak enak makan-terasa mual, jika mengingat gambar itu, dan kemudian terpikirkan bahwa dengan cara apa kelak saya akan mati? bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menemukan orang yang mati  dalam berbagai cara ada yang mati dalam keadaan mudah-dalam keadaan susah dsb. Oleh karena itu kita perlu sering mengenang-ngenang, mengingat apa hakikat hidup kita itu. Sebab setiap kita diberi dorongan yang kuat untuk memiliki, lalu setelah memiliki kita kemudian terdorong kuat untuk menikmati, setelah itu terdorong kuat untuk memproteksi kenikmatan itu.dan itulah yang selalu membuat kita selalu panjang angan-angan, lupa hakikat hidup sebenarnya dan ini sesuai dengan nasihat dan perkataan Sahabat  nabi, Ali bin Abi Thalib bahwa hal inilah yang membuat kita sering lupa pada hakikat kehidupan. Maka jika kita mampu, kita tinggal me-manage perasaan kita setiap waktu dan selalu berusaha berdzikir, bersyukur dan yang penting juga adalah berpikir dari akhir, berfikir dari titik kematian. Untuk kembali menganalisa, memperbaiki kehidupan kita hari ini hendaknya kita janganlah berfikir dari belakang, jika kita berfikir dari belakang dan merasa bahwa saya dulu dari biasa, pernah terjebak dalam maksiat tercebur dalam kesesatan dan sekarang jadi tahu Islam, tahu jalan yang benar, sudah banyak beribadah dst, meskipun ini patut kita syukuri, bahwa Allah telah memberi hidayah pada kita tapi hal ini yang sering melenakan kita, kadangkala hal ini akan membuat kita senang dengan hidup kita seperti sekarang, kemudian jadi terlena-lupa,tapi cobalah merasakan dan berfikirlah dari ujung mulai dari akhirnya, mulai dari kematian. Dengan cara apa saya akan mati, apakah besok sampai kematian menjemput kita kita masih berpegang teguh pada iman kita dan berjalan diatas jalan yang lurus?

Jika kita sering berdzikir ataupun mengingat dalam pengertian yang luas ataupun  kita merenungan dalam kesendirian dan kita membisik-bisiki jiwa dari waktu ke waktu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.niscaya kita akan menemukan suatu gambaran apa sebenarnya yang anda inginkan dalam hidup ini, apa visi dan misi hidup kita ini yang sebenarnya? Dengan cara seperti itu kita akan menemukan gambaran tentang pribadi kita masing-masing dan gambaran itu yang ingin kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah. Jika gambaran itu bisa selalu kita hadirkan dalam pikiran kita maka itulah yang akan bisa mengendalikan segenap gerak gerik jiwa dan perilaku yang lahir dari kita. Tetapi untuk menjawab ini perlu waktu yang agak panjang, mungkin kita perlu waktu dari beberapa hari kita untuk merenungi kehidupan ini dari waktu-ke waktu karena hal-hal seperti itu yang akan membuat penghayatan kita tentang hidup ini menjadi lebih intens. Itulah yang bisa menjadikan kita menghitung hari setiap hari dan bukan melupakan hari setelah beberapa bulan, dengan cara menghitung hari setiap hari bahkan menghitung detik demi detik. Insyaallah kita akan menjalini hidup lebih intens lebih terarah lebih bermakna karena kita benar-benar terlibat di dalamnya, itulah saat dimana kita menentukan bentuk yang kita inginkan bagi diri kita sendiri. Wallahu a’lam

 2  

Kembali

Priyo_cahyono@yahoo.com

Diadaptasi dari berbagai sumber: kaset ceramah, Albun-yan.com dll