Make your own free website on Tripod.com

Membela tasawuf, Memfitnah Ibnu Taimiyyah

tRasulullah salallohu’alahi wa sallam bersabda: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun tahun banyak tipuan di mana saat itu orang Jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana. berbicaralah Ruwaibidhoh. Kemudian Nabi ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi bersdbda: Orang yang bodoh (tetapi)berbicara mengenai urusan agama (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya'la, dan Al-Bazzar; sanadnya-jayyid/bagus dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah.Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84). "Idzaa wussidal amru ilaa ghoiri ahlihi fantadziris saaah” Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat (HR Bukhari dari Abi Hurairah)

Al-Manawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan: Apabila hukum yang berkaitian dengan agama seperti kekhalifahan dan rangkaiannya berupa kepemimpinan, peradilan, fatwa, pengajaran dan lainnya diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, yakni apabila pengelolaan urusan perintah dan larangan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat, sebab hal itu sudah datang tanda-tandanya. Ini menunjukkan dekatnya kiamat, sebab, menyerahkan urusan dalam hal amar (perintah) dan nahi (larangan) kepada yang tidak amanah, rapuh agamanya, lemah Islamnya, dan mengakibatkan meraja­lelanya kebodohan, hilangnya ilmu dan lemahnya ahli kebenaran untuk pelak­sanaan dan penegakannya, maka itu adalah sebagian dari tanda-tanda kiamat.

Dua hadits itu menyangkut masalah yang penting, Hendaknya umat Islam menghindarinya. Betapa rusaknya, jika yang “berbicara” tentang, agama adalah orang-orang yang bukan ahlinya, bahkan seperti yang disebut Nabi sebagai Ruwaibidhah, yakni orang yang minim ilmu agamanya namun berbicara mengenai hal-hal besar dalam agama untuk umum. Sementara itu di kancah politik, ekonomi, pergalulah hidup, dan kepemimpinan dengan aneka percaturannya (sistem pemilihannya, prosedurnya, dan prakteknya) amburadul. Yaitu sebagaimana yang diungkapkan Hadist Nabi, orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhah. Itulah dunia tukang tipu, tukang menduga-duga tentang agama lalu disebar-sebarkan ke mana saja. Akibatnya merajalela-lah kesesatan, penyimpangan, pendangkalan agama namun merasa mentaati agama, menyibukan diri dengan hal-hal yang tak sesuai dengan ilmu agama namun diklaim sebagai pemdalaman dalam hal ilmu agama dan aneka kesalahan lain. Berdzikir jama’ah dengan suara keras lalu bersama-sama nangis, merintih bareng­bareng dengan pakaian seragam tertentu dengan berkeliling di masji-masjid tertentu, dengan bacaan-bacaan dzikir yang diada-adakan seolah menjadi pengamalan agama yang khusyu' , bahkan dianggap syi'ar, lambang pendekatan diri kepada Allah Terciptalah suasana aneh. Bayangkan, di kala negeri yang terbesar umat Islamnya di dunia ini didakwahi oleh orang yang mengklaim dirinya mampu membuat konsep mengatur hati menggunakan hasil kontemplasi dan perenungan bertahun-­tahun, bukan konsep tazkyatun nafs dari Al-Qur'an dan As-Sunah, lalu dia anggap itu adalah konsep untuk mengatur hati dengan label manajemen qalbu, yang mengaku punya konsep bahwa kalau hatihya sudah bersih maka akan timbul kekuatan magnet yang mampu menyedot perhatian seluruh dunia. Bayangkan, betapa rusaknya. Dan itulah yang diusung dan dijajakan ke mana-mana, disiarkan lewat televisi ataupun media cetak, betapa amburadulnya. Dan itu nyata, apakah ada kisah nyata bahwa manusia ini bisa diperbaiki oleh seorang yang niampu mengatur hati dengan hasil perenungannya, kontemplasinya selama bertahun-tahun?

 Apakah Nabi Muhammad mendidik para sahabat,yang tadinya jahiliyah bisa berubah jadi manusia-manusia terbaik itu menggunakan hasil perenungan, kontemplasi dan kalimat-kalimat reka-rekaan? Sama sekali tidak! Nabi membimbing manusia hanyalah dengan wahyu dari Allah Subhanallahu wa ta’alla, yakni Al-Qur'an dan As­Sunnah. Dan terbukti, manusia yang dibimbingnya bisa berubah menjadi manusia terbaik, generasi terbaik. Maka celakalah apabila kini justru manusia-manusia yang kondisinya sudah banyak yang rusak ini justru "diperbaiki" dengan hasil perenungan. Seakan tak ada tuntunan Al-Qur'an dan, as-Sunnah. Itulah model yang lebih buruk ketimbang kaumnya Nabi Musa, yang diberi makanan dari langit, manna dan salwa, malah mereka minta makanan yang rendahan. Sudah ada Al-Qur'an dan Sunnah yang jelas wahyu dari Allah, malah mereka lari mencari yang lain. Maka muncullah orang yang membuat hasil kontemplasinya sendiri untuk memperbaiki, membersihkan hati, agar memunculkan, magnet yang bisa menyedot perhatian dunia. Astaghfirullah hal'adhiem!.

Ada pula kumpulan orang yang berhalaqah (membuat lingkaran) lalu di tengahnya ada seseorang yang memberi aba­ aba bacalah takbir 100 kali, lalu mereka bertakbir dan seterusnya hal itu beralasan hanya untuk kebaikan saja. Sebagaimana pada masa setelah Rasulullah baru meninggal, Abu Abdur Rahman (Abdullah bin Mas'ud, sahabat Nabi) mengeluh, betapa cepat rusaknya umat ini, sedang pakaian Nabi belum usang, kendi-kendinya pun belum pecah, dan para sababat masih bertebaran di sana-sini, namun bid’ah sudah mulai muncul.(Lihat Sunan Ad-Darimi 68,69).Bagaimana dengan kondisi sekarang sudah jauh dari masa Nabi? Sungguh memprihatinkan. Tetapi bagaimana pun makin parahnya kondisi zaman dan rusaknya umat tetap masih akan ada yang berjalan dan menyuarakan kebenaran. “Senantiasa akan ada dari segolongan umatku yang memperjuangkan kebenaran dan tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.(HR Muslim) Ketika kondisinya umat banyak yang terlena dan hanyut dalam model dakwah tasawuf hanya mementingkan pembersihan hati, perenungan, tiba-tiba muncullah suara kebenaran yang seolah-olah menentang arus, salah satunya adalah bersumber dari buku dengan judul Rapot Merah Aa Gym, MQ di Penjara Tasawuf  karya Abdurrahman Al-Mukaffi. Orang yang sudah kadung gandrung dengan model dakwah tasawuf itu pun ribut dan geger. Para pendukungnya hiruk pikuk makin bingung campur marah. Lalu beberapa bulan kemudian muncul buku pendukung tasawuf sebagai jawaban atas “Raport Merah Aa Gym” itu, yaitu buku yang lebih tebal lagi setebal 236 lembar. Isinya sebagian membela Aa Gym, menjajakan tasawuf, menjunjung dan memuji Jama'ah Tabligh dan memfitnah lbnu Taimiyyah, dan berusaha ingin memperbaiki Rapot Merah. Buku itu ditulis oleh Tengku Zulkarnaen dengan judul Salah Faham Penyakit Umat Islam Masa Kini -Jawaban atas Buku Rapot Merah Aa Gym diterbitkan Yayasan Al­Hakim, Jakarta, Agustus 2003,

Sesuai judul bukunya, yaitu “Salah Paham ....”ternyata buku ini pun langsung menggambarkan kesalah-pahaman pengarang sendiri, terhadap penulis Abdurahman Almukaffi, jadi yang salah faham bukan umat Islam, tetapi dia sendiri (Tengku Zulkarnaen) Coba kita simak, Begitu Tengku Zulkarnaen memulai tulisannya pada halaman satu, dia sudah langsung salah faham.Tengku Zulkarnaen ini bermaksud mau membela Aa Gym dan menonjok Abdurahman Al-mukaffi, tetapi malah tonjokan perdananya justru dihantamkan ke 'orangnya' Aa Gym sendiri, yaitu kepada Herry Muhammad orang yang menulis buku Bening Hati nya Aa Gym. Begini secara jelas ceritanya : Abdurrahman Al-Mukaffi penulis Rapot Merah Aa Gym, hanyalah mengutip tulisan dari buku “Bening Hati” Herry Mohammad 'orangnya" Aa Gym itu menulis dan menyebut wartawan The New York Times dengan sebutan “wartawan bule”. Abdurrahman mengutip istilah "wartwan bule" itu di buku Rapot Merah dengan maksud untuk mempertanyakan tentang sanjungan The New York Times terhadap Aa Gym. Rupanya Pak Tengku saking semangatnya dan mungkin marah, langsung saja main "tonjok" kepada Abdurrahman, tetapi malah salah sasaran, karena yang memberi julukan "wartawan bule" itu justru Hery Muhammad 'orangnya' Aa Gym sendiri. Tengku Zulkarnaen mengganggap bahwa istilah 'bule' yang dikira-nya ditulis oleh Abdurahman, telah mengandung penghinaan, merendahkan martabat manusia. Padahal itu adalah tulisan Herry Mohammad, dan istilah bule yang dimaksudkan itu tidak bermaksud untuk memojokkan, penghinaan, merendahkan atau semacamnya. Tetapi sebagai ungkapan biasa-biasa saja, sebagai pemanis bahasa dalam penulisan bahkan kadang bisa mengandung unsur pujian / bagus. Itu menurut unsur rasa bahasa saja. Tetapi oleh Pak Tengku di-salah fahami bahwa ungkapan itu semacam penghinaan, merendahkan martabat manusia  dsb. Memang tepat sekali dengan judul bukunya, yaitu buku Salah Faham. Jadi baru halaman pertama saja sudah diawali dengan Salah Faham penulisnya. Sebenarnya Tengku Zulkarnaen mau membela Aa Gym dengan “memukul” Abdurahman tetapi kenyataannya justru menonjok orangnya Aa Gym sendiri. Itulah contoh nyata salah faham.

Seharusnya orang yang tak faham belajar kepada yang faham atau ahlinya, sesuai dengan perintah Allah Subhanallahu wa ta’alla, fas'aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta'lamuun, Bertanyalah kepada ahli ilmu bila karnu sekalian tidak mengetahui. Namun sebaliknya, orang yang tidak faham itu justru mengajari, mendakwahi orang dengan materi­yang dia sendiri tidak faham, maka rusaklah keadaannya. Yang jadi fenomena sekarang, ada orang yang kelihatannya berdakwah, tetapi sebenarnya dirinya sendiri tidak faham, lalu berdakwah ke sana ke mari disiarkan lewat berbagai media massa hingga tersebar ke mana-mana. Padahal yang disebarkan itu masalah-masalah yang sangat penting, prinsip, yaitu agama dan masalah hati. Itu semua harus berlandaskan nash, yaitu teks ayat Al-Qur’an dan hadits yang sifatnya dalil yang kuat. Maka Rasulullah  sampai memperingatkan seperti dalam hadits ruwaibidhoh tersebut di atas. Dalam sejarah nabi Musa tercatat Samiri yang membuat sesembahan berupa anak sapi di masa' Nabi Musa itu adalah orang yang terkenal. Kaum Nabi Musa pun ramai-ramai mengikutinya, mendukungnya dan menyemarakkannya. Nabi Harun yang faham akan kesalahan besar di kalangan umat yang terseret oleh Samiri itu sangat kerepotan. Begitu Nabi Musa datang dan ternyata kaumnya sudah ramai-ramai menyembah patung anak sapi, maka marahlah ia.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu sekalian hendak mendahului janji Tuhanmu?" Maksudnya: apakah kamu tidak sabar menanti kedatanganku kembali sesudah munajat dengan Allah sehingga kamu sekalian membuat patung. untuk disembah sebagaimana menyembah Allah? Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang rambut kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: "Hai anak ibuku, sesungguhdya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang dhalim.(QS.Al-A’raaf-150) Jadi gambaran kisah Nabi Musa diatas jika di samakan dengan model dakwah kontemplai yang lagi musim ini mungkin tidak sama persis tetapi dari satu sisi ada kesamaan yaitu meninggalkan pedoman utama beralih kepada model buatan sendiri.

Kembali ke permasalah awal tentang buku Salah Faham, yang membela Aa Gym, ternyata terdapat pula tindakan ikut-ikutan memfitnah, kepada ulama besar Syaikh Ibnu Taimiyyah dengan mengutip buku tulisan Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama, jilid III halaman 214-220, Siradjudin Abbas merujuk kepada lbnu Bathuthah dalam kitabnya, Rihlah. Diantaranya dikutip tulisan Ibnu Bathuthah: “Saya ketika itu sedang berada di Damsyik, kata Ibnu Bathuthah. Pada hari Jum'at, lbnu Taimiyyah berpidato di atas mimbar Masjid Damsyik. Di antara ucapan Ibnu Taimiyyah dikatakan, bahwa Tuhan Allah turun ke langit dunia tiap-tiap malam, seperti turunnya saya ini, lalu ia turun dari mimbar. (halaman 175).

Benarkah tuduhan Ibnu Bathutah itu, mari kita simak bukti uraian dari kitab Syarah, Qashidah karangan lbnul Qayyim: "Syaikh lbnu Taimiyyah pun tidak luput dari kebohongan dan tuduhan dusta yang menganggap beliau telah mengatakan tajsim (Allah bertubuh), suatu ungkapan yang jauh darinya. Ibnu Bathuthah menyebutkan dalam kitabnya, Rihlah yang mengatakan, “Aku masuk ke Balabak tengah siang hari (asyiyatan nahar) dan aku keluar darinya pagi karena sangat rinduku ke Damsyik, dan aku sampai pada hari Kamis 9 Ramadhan yang diagungkan tahun 726 H, ke kota Damsyik-Syam. Maka aku singgah di sana di Madrasah al-Malikiyah yatig dikenal dengan As-syarabisyiyah. Dan di Damsyik ada orang termasuk ulama fiqih besar dari madzhab Hambali, yaitu Taqiyuddin bin Taimiyyah, orang besar di Syam, dia berbicara mengenai cabang-cabang ilmu (funun). Lalu saya mendatangi  kepada Ibnu Taimiyyah pada hari Jum'at, dan dia di atas mimbar masjid jami' menasihati para manusia, dan mengingatkan mereka. Ada dari sejumlah perkataan Ibnu Taimiyyah yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia seperti turunku ini, dan Ibnu Taimiyyah pun turun satu tangga dari mimbar, maka seorang ahli fiqih bermadzhab Maliki yang dikenal dengan Ibnu Az-Zahra' menentangnya”. Demikianlah perkataan Ibnu Bathuthah Aku (Ibnul Qoyyim) katakan: “aku berlindung kepada Allah dari kebohongan yang pembohongnya (Ibnu Bathuthah) yang tidak takut kepada Allah ini dan tidak malu berbuat bohong. Di dalarn hadits disebutkan, apabila kamu tidak malu maka berbuatlah apa yang kau mau. Terangnya kebohongan ini tampak jelas, tidak memerlukan lagi berpanjang kalam, dan Allah lah Maha Penghitung kebohongan pendusta ini. Ibnu Bathuthah menyebutkan bahwa ia masuk Damsyik pada 9 Ramadhan 726 H, sedangkan Syaikh Ibnu Taimiyyah ketika itu sudah ditahan di benteng (Al-qal’ah) sebagairnana hal itu disebutkan para ulama terpercaya seperti muridnya, Al-hafidh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi dan Al-hafidh Abil Faraj Abdu Rahman bin Ahmad bin Rajah dalam kitab Thobaqot Hanabilah, dalam biografi Syaikh Ibnu Taimiyyah ia berkata: Syaikh Ibnu Taimiyyah tinggal di benteng itu dari bulan Sya'ban tahun 726 H sampai Dzulqo'dah tahun 728 H. Ibnu Abdul Hadi menambahkan, lbnu Taimiyyah memasuki tahanan di benteng, itu pada 6 Sya'ban. Maka lihatlah pendusta Ibnu Bathuthah ini yang menyebutkan bahwa Ibnu Bathuthah mcnghadiri halaqah Ibnu Taimiyyah sedang memberi nasihat kepada para manusia di mimbar masjid jami’.Bagaimana bisa terjadi, apakah mimbar masjid jami' itu telah pindah ke.dalam benteng Damsyik? Padahal Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah masuk ke tahanan benteng itu pada tanggal tersebut kemudian tidak pernah keluar darinya kecuali di atas kereta jenazah di hari wafatnya, Dzulqa'dah 728H. Pada bagian selanjutnya, pensyarah ini menegaskan bahwa jelaslah bagimu bohongnya Ibnu Bathuthah, orang Maghribi ini (Lihat Syarah Qashidah Ibnul Qayyim, juz I halaman 497).

Tengku Zulkarnaen penulis buku Salah Faham dan pendahulunya, Siradjudin Abbas, ikut-ikutan berbohong dan memfitnah ulama besar Syaik Ibnu Taimiyah, selarna masih menyebarkan fitnah itu. Kalau Siradjuddin Abbas yang sudah meninggal, dan meninggalkan fitnah besar terhadap ulama, tapi sekarang  ada penerusnya, ada generasi barunya yaitu Tengku Zulkarnaen, bila ia tidak surut dan mencabut tebaran fitnahnya yang ikut-ikutan itu.maka ia akan terkena ancaman Allah, yang artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalarn (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al-Maaidah:2). Dan ayat yang artinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat (An.nisaa': 105).

(Diambil dari tulisan Hartono Ahmad Jaiz, dan di edit kembali oleh redaksi)

 

Kembali